PTK Distribution: Rekam Jejak Kancah Underground di Pontianak

PTK Distribution: Rekam Jejak Kancah Underground di Pontianak

PTK Distribution: Rekam Jejak Kancah Underground di Pontianak 1280 960 Extended.Asia.Play

Pada 1 November 2019, (T) Theo Nugraha mewawancarai seorang pemuda asal Pontianak, (A) Aldiman Sinaga atau dikenal juga sebagai drummer band ROTA dan Hiraeth, Pendiri PTK Distribution dan aktif menginisiasi berbagai kegiatan bersama teman-teman di Pontianak. Wawancara ini dilakukan melalui aplikasi chat Facebook dan diselaraskan oleh Andang Kelana. Berikut adalah hasil wawancara VJ>Play dengan Aldiman Sinaga.

Silahkan perkenalkan diri dan awal mula lahirnya PTK Distribution?
Namaku Aldiman Sinaga sehari-hari selain kerja, aku menjalankan PTK Distribution dengan dua sub label dibawahnya Pojok Pustaka PTK sebagai sebuah ruang perpustakaan zine dan buku, dan juga PTK Archive sebagai usahaku untuk pengarsipan materi-materi terkait rekam jejak kancah underground Pontianak seperti; foto, flyer acara, zine, video, lagu, dan sebagainya). Aku juga bermain di beberapa band. Yang saat ini aktif ada dua: ROTA (dbeat) dan Hiraeth (hardcore punk). Saat ini juga ga ada komitmen keanggotaan dengan kolektif manapun, tapi terkadang aku berpartisipasi ataupun menginisiasi berbagai kegiatan mulai dari gig musik , lapak baca , maupun pasar gratis bersama teman-teman di Pontianak. Aku juga bikin zine, yang pernah kubuat adalah Revival Newsrockletter, Bagi Bagi zine, Pete Pete zine, Self Worth Zine, dan yang masih aktif Swara PTK.

Sedangkan PTK Distribution itu mulai dari akhir 2010 atau awal 201. Mulanya karena aku gemes aja distribusi rilisan lokal (HC Punk, Metal, Pop, dsb) di Pontianak agak kurang. Jadi awalnya aku mulai distribusi, order wholesale, jual lapak pas acara. Tapi akhirnya bosan, uangnya habis, tapi produknya ga ada. Jadi aku pikir, uangnya mending bikin produk dan bermanfaat, ya sudah, aku rilis/produksi band teman aja. Mulailah itu di tahun 2011.

Pada awalnya, siapa saja rilisan fisik yang diterbitkan oleh PTK Distribution?
PTK1101 Sukarame – Epileuge (CD-R), PTK1102 Monterado – Monterado (CD-R), PTK1103 Fast food – Siap saji (konsumsi sampai mati) (CD-R), Dan PTK1104 Korrupt – Step of Annihilation (CD-R), kemudian di akhir 2011 keempat band itu bikin showcase.

PTK Distribution merilis genre seperti apa?
Tidak ada spesifikasi jenis musik tertentu, ga ada batasannya. Yang sudah pernah dirilis juga bermacam macam, mulai dari hip hop, d-beat, pop, metal, masuk saja semua.

Di sini aku juga melihat PTK Distribution merilis bunyi dan musik eksperimental. Bagaimana kamu melihat perkembangannya di Pontianak?
Ya betul, sudah ada beberapa rilisan eksperimental. Di kota Pontianak untuk eksperimental saat ini mulai marak, khususnya melalui usaha-usaha dan gerakan dari teman-teman kampus seni FKIP UNTAN. Ada sebuah komunitas eksperimental yang bikin alat musik sendiri, namanya Sonikustik.

Selain itu ada juga individu individu yang tinggal di luar Pontianak, mereka juga bikin karya musik eksperimental. Ada Renaldy dari Sintang, lalu Agung dan Catur dari Entikong. Ke depannya, dengan masih aktifnya orang-orang yang aku sebut di atas, kayaknya geliat musik eksperimental di Pontianak/Kalimantan Barat masih akan tetap ada.

Apakah ada sistem kurasi di setiap rilisannya? Jika iya bagaimana prosesnya kurasinya?
Sistem kurasi tentu ada, maksudnya gak asal milih. Dan kalo ada yang nawarin ke aku, baik band nya langsung maupun melalui rekomendasi teman, aku juga masih liat-liat dulu. Ya begitu aja sih kurasinya.

Aku sih intinya, mereka band Pontianak atau Kalimantan kalaupun band (dari) luar Kalimantan, minimal itu split project dengan band Kalimantan atau Pontianak. Terus aku berusaha kenal dengan personilnya, baik ketemu langsung ataupun chat kalau yang jauh. (Komunikasi ini) Untuk mengenali attitude-nya. Terus kalau sefrekuensi di berbagai hal, ya sudah, cocok. Lagi pula PTK Distribution selalu mengusahakan sistemnya kerjasama, bukan “dirilisin dong”.

Sedangkan PTK Distribution itu mulai dari akhir 2010 atau awal 201. Mulanya karena aku gemes aja distribusi rilisan lokal (HC Punk, Metal, Pop, dsb) di Pontianak agak kurang. Jadi awalnya aku mulai distribusi, order wholesale, jual lapak pas acara. Tapi akhirnya bosan, uangnya habis, tapi produknya ga ada. Jadi aku pikir, uangnya mending bikin produk dan bermanfaat, ya sudah, aku rilis/produksi band teman aja. Mulailah itu di tahun 2011.

Menurutmu definisi underground itu seperti apa ?
Aku mendefinisikannya ke masa di mana aku mengenal istilah tersebut aja ya. Itu istilah untuk mengelompokkan band, maupun bentuk kesenian dan karya cipta lainnya, yang tidak ter-cover media arus utama. Lebih spesifik lagi, untuk musik saat itu ada band-band dan musik-musik yang tidak masuk dalam “radar”-nya media dan label arus utama. Tapi mereka tidak terpengaruh, entah mereka menganggap itu suatu kondisi kritis atau biasa saja. Yang jelas mereka tetap fokus pada diri dan pergerakannya sendiri, tetap hidup dan berkarya, bahkan berjejaring dengan sesamanya. Untuk masa sekarang, istilah itu antara bisa dipakai ataupun tidak, jawabannya bisa dua-duanya. Tapi aku masih memakainya untuk mengategorikan dalam berbagai hal yang dilakukan PTK Distribution, termasuk juga band/penulis/teman yang berinteraksi dalam kegiatan tesebut bersama PTK Distribution.

Lalu praktik underground yang seperti apa yang dilakukan kamu dan teman-teman di Pontianak ?
Bermain dan menciptakan musik, membuat zine, melakukan kegiatan lapak membaca, merilis musik menjadi rilisan fisik, membuat pertunjukan musik, menyebarkan kabar mengenai kegiatan kami melalui sosial media maupun whatsapp ke teman-teman lain diluar Pontianak, melakukan tur kunjungan ke teman-teman di tempat lain. Semua yang masih kami lakukan dengan kesenangan kami, tanpa dikontrol otoritas lain di luar diri kami.

Bermula sebagai record label kemudian berkembang sebagai blog dan zine yang aktif memberikan informasi pergerakan budaya Do It Yourself di Pontianak. Bagaimana proses itu terjadi?
Nah jadi sebenarnya, dunia tulis-menulis, jurnalistik, zine dan media dalam kancah underground itu memang cinta pertama aku. Dengan kancah ini, yang bikin aku jatuh hati dan tertarik semakin dalam, ya karna ada budaya zine/media alternatif/media mandirinya. Aku udah pernah bikin sebuah newsletter info musik lokal dengan beberapa teman di tahun 2007, terbit tiap bulan, sayang cuma bertahan satu tahun namanya Revival Newsrockletter.

Setelah bentuk cetaknya berhenti, aku sempat lanjutkan di blog http://rvlnewsletter.blogspot.com/. Tapi begitu aku bikin PTK Distribution, aku juga langsung bikin blog khusus untuk PTK Distribution. Awalnya cuma bertujuan untuk menyebarkan informasi PTK Distribution aja, tapi karena tadi aku bilang, mengenai menulis dan media juga memang sudah jadi ketertarikan aku dari sebelumnya, ya sudah aku gabungin aja. Jadi PTK distribution itu label produksi, distribusi, dan informasi. Bentuknya, bisa melalui berbagai platform rilisan fisik, webzine, zine cetak, dan juga audiovisual (kanal youtube). Belakangan merambah ke perpustakaan (Pojok Pustaka PTK) dan juga pengarsipan (PTK Archive).

Bermain dan menciptakan musik, membuat zine, melakukan kegiatan lapak membaca, merilis musik menjadi rilisan fisik, membuat pertunjukan musik, menyebarkan kabar mengenai kegiatan kami melalui sosial media maupun whatsapp ke teman-teman lain diluar Pontianak, melakukan tur kunjungan ke teman-teman di tempat lain. Semua yang masih kami lakukan dengan kesenangan kami, tanpa dikontrol otoritas lain di luar diri kami.

Boleh jelaskan tentang perpustakaan zine (Pojok Pustaka PTK)? dan bagaimana kamu membangun jaringan antar zine maker lainnya?
Pojok Pustaka itu berada di satu ruangan kecil di area kafe Parklife, Pontianak. Jadi awalnya karena ada ruangan yang ditawari oleh temanku sebagai pengelola. Dia bilang, dia mau ruangan itu diisi buku-buku. Pas aku dengar, wah cocok nih. Memang aku dulu sudah pernah punya imajinasi mau bikin perpustakaan tapi isinya zine semua. Ya sudah aku terima tawaran dia. Tapi memang ini bukan spesifik perpustakaan zine walaupun memang lebih banyak jumlah zine-nya tapi ada bentuk buku lainnya. Memang misi pribadi aku ingin lebih menawarkan zine-nya, tapi aku pikir kalau memperkenalkan Pojok Pustaka hanya sebagai perpustakaan zine saja, orang lain kan belum semuanya tau apa itu zine, Ya sudah ambil jalan amannya saja supaya semua bisa masuk.

Di Pojok Pustaka terbuka setiap hari, walaupun ga ada aku yang jaga di situ, bebas bertanggung jawab aja deh pokoknya. Mau datang baca, datang baca dan pinjam (kalau pas ga ada aku, bisa DM lewat IG atau chat whatsapp). Selain sebagai perpustakaan, Pojok Pustaka juga bikin kegiatan biar ada produk lainnya, (mulailah membuat kegiatan) nonton film (Sinema Pojokan), bikin podcast (Buda’ Podcast), dan lagi coba-coba nih bikin videoblog ato youtube show begitu, ngobrolin zine.

Membangun jaringan antar zinemaker itu sudah dilakukan dari 2010an deh kayaknya. Semua melalui facebook dan berkelana lintas internet aja pokoknya. Dari situ aku hubungi mereka, ada yg lewat FB, Email, ataupun SMS. Lalu jejaring yang dulu juga berefek besar adalah grup facebook We Love Zine. Intinya semua dilakukan dengan keberanian untuk menyapa dan berkenalan aja sih. Tapi memang aku belum sampai ke proses merapikan semua kontak teman-teman zine, lalu memetakan lokasi-lokasi mereka, sampai jadi sebuah buku kontak seperti itu.

Zine apa saja yang pernah dirilis oleh PTK Distribution?
Swara PTK dan Self Worth Zine. Yang betul-betul dari PTK Distribution sih, ya dua itu. Yang ga bawa label PTK Distribution ya banyak.

Membangun jaringan antar zinemaker itu sudah dilakukan dari 2010an deh kayaknya. Semua melalui facebook dan berkelana lintas internet aja pokoknya. Dari situ aku hubungi mereka, ada yg lewat FB, Email, ataupun SMS. Lalu jejaring yang dulu juga berefek besar adalah grup facebook We Love Zine. Intinya semua dilakukan dengan keberanian untuk menyapa dan berkenalan aja sih. Tapi memang aku belum sampai ke proses merapikan semua kontak teman-teman zine, lalu memetakan lokasi-lokasi mereka, sampai jadi sebuah buku kontak seperti itu.

Swara PTK dan Self Worth Zine membahas seputar apa saja?
Swara PTK itu zine seputar kancah musik lokal. Sebisa mungkin ada pembahasan yang tematik di situ. Misalnya reportase tur, wawancara mendalam/panjang, bukan sekedar mengulas rilisan atau gig. Self Worth, itu zine yg kubikin ama pacar, zine-nya tentang self worth, keberhargaan diri.

Bentuk pengarsipan seperti apa yang dilakukan (PTK Archive)?
Tujuannya sih fisik dan digital. Tapi saat ini yang lebih diutamakan digital dulu. Digital itu aku upload simpan ke archive.org lalu di tautkan ke blog PTK Archive. Nantinya blog PTK Archive itu fungsinya sebagai galeri, jadi di situ bisa langsung nyari file yang disimpan sesuai kategori (flyer/zine/audio/foto/video/sortir per tahun bisa). Lalu bisa diunduh dengan klik link yang sudah dihubungkan langsung ke archive.org. Untuk bentuk fisik salah satunya flyer. Nanti mau kusiapkan semua versi cetaknya, simpan (dulu) dalam map-map plastik.

Website itu tujuannya supaya arsip bisa diakses publik luas. Sementara cetaknya, baik pamflet, zine, foto-foto, mimpinya suatu saat nanti bisa dilihat di Pojok Pustaka PTK sebagai galeri fisik tapi dari semua mimpi itu, untuk PTK Archive yang sudah dan sedang berjalan ya mengarsipkan digital terus-menerus, lalu meng-upload ke PTK Archive.

Oke, terima kasih waktunya Aldiman.
Sama sama terima kasih yo untuk kesempatannya.

Tautan terkait:
https://www.ptkdistribution.com/
https://ptkdistribution.bandcamp.com/
https://www.youtube.com/channel/UCnXK8KNbhAo5Ia8SfR-9_pA

Edisi bincang-bincang zine:

Theo Nugraha

Theo Nugraha (b. Samarinda, April, 1992) is an artist, curator, and organizer from Samarinda. He has been a part of Indonesian experimental sound scene since 2013. His discography contains almost 200 releases. He is the co-founder of the HEX Foundation and one of the initiators of Extended.Asia, an online platform for sound and visual artists. In addition, He also works as a co-curator of the Museum Kota Samarinda. Theo is also active in an visual experimentation group with Milisifilem Collective, performance art at 69 Performance Club, and is the editor of EXT.ASI.PLAY.

article above by: Theo Nugraha

    error: Content is protected !!