Musisi eksperimental Jakarta, Logic Lost, merilis album terbaru ‘Disposable Gods’ lewat Avon Terror Corps & Orange Cliff

Musisi eksperimental Jakarta, Logic Lost, merilis album terbaru ‘Disposable Gods’ lewat Avon Terror Corps & Orange Cliff

Musisi eksperimental Jakarta, Logic Lost, merilis album terbaru ‘Disposable Gods’ lewat Avon Terror Corps & Orange Cliff 1080 1080 Extended.Asia.Play

Musisi elektronik eksperimental asal Jakarta, Logic Lost, telah merilis album terbarunya, Disposable Gods, lewat label Inggris, Avon Terror Corps, pada tanggal 28 November 2025.

Disposable Gods merupakan album keempat Logic Lost, menyusul album Degenerates (2022), yang mengeksplorasi tema terkait siklus kekuasaan dan penindasan, dibingkai dalam sebuah cerita pemberontakan fiksional.

Dylan Amirio, sosok di balik Logic Lost, menjelaskan inti album sebagai berikut:

“Mempertahankan kekuasaan adalah sebuah seni. Seni mengeksploitasi insting dasar seperti ketakutan, keserakahan, kedengkian, dan diskriminasi yang membentuk sistem untuk menguntungkan segelintir orang dan mengucilkan sisanya. Mereka yang berkuasa menuhankan diri sebagai dewa, melakukan upaya-upaya zalim untuk mempertahankan status quo.

Namun, sebesar apapun mereka melihat dirinya, mereka tetap fana, dan karena itu bisa jatuh di tangan sesama fana.”

Album Disposable Gods terinspirasi dari peristiwa-peristiwa pemberontakan dunia di masa lalu dan masa kontemporer di mana para tiran digulingkan oleh rakyatnya, dari Indonesia, Nepal, dan Bangladesh, Rumania, Filipina, dan tentu perlawanan rakyat Palestina terhadap genosida yang dilakukan oleh Israel. Semua contoh perlawanan tersebut dibalas dengan kekerasan yang membabi buta oleh penguasa.

DISPOSABLE GODS: THE STORY
Album Disposable Gods menceritakan kisah sebuah masyarakat fiksional yang berada di ambang ledakan. Lelah akan dunia yang telah dibuat rusak dan hak-hak rakyat yang dirampas oleh penguasa yang menindas dengan senang hati, masyarakat akhirnya melawan. Setiap lagu menggambarkan peristiwa tertentu:

1. World of Prayer – Masyarakat yang hancur diperkenalkan: warganya tertindas dan penuh dengan keputusasaan. Sisa-sisa kekuasaan tampak di dunia yang terlihat hancur lewat hak yang dirampas, ketimpangan yang nyata, dan pemandangan yang porak poranda.
2. Insurgents – Keheningan pecah ketika yang tertindas bangkit. Massa membanjiri jalanan dalam aksi demonstrasi besar-besaran, dan kegundahan mereka akhirnya meledak menjadi dentuman suara.
3. Fix Bayonets – Ketegangan memuncak menjadi kekerasan. Aparat berbekal senapan menghadang dan menembaki tanpa henti, namun rakyat terus maju menembus rentetan peluru.
4. Jurang Kuasa – Massa semakin mendekati markas para pemimpin. Para penindas yang tersisa mulai melarikan diri sementara lingkungan mereka dilalap api.
5. Biadab – Para penindas meninggalkan benteng mereka dan terdampar di tempat asing, menyadari bahwa kini mereka sedang diburu. Arogansi mereka pudar saat mereka berusaha menerima kenyataan yang brutal.
6. Trash Begets Trash – Para penindas berhasil ditangkap, kusut dan hancur. Kabar tentang kejatuhan mereka menyebar, dan masyarakat merayakan berita tersebut.
7. Fear of Razorblades – Para mantan penguasa penindas dieksekusi.
8. Without Sin – Kebingungan muncul tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika vakum kekuasaan melebar, ketidakpastian merayap masuk. Suara-suara mengancam mulai terdengar sebagai calon pengganti. Ulangi album.

Kisah ini merupakan bagian dari sebuah cerita yang merangkum dua album Logic Lost sebelumnya, Hero Worship (2020) dan Degenerates (2022), berjudul The World of Prayer.

Jika Hero Worship menampakkan kecemasan dan Degenerates menggambarkan dunia yang sedang menuju kehancuran, maka Disposable Gods menjadi klimaks dari cerita tersebut.

Dikembangkan selama tiga tahun, suara Disposable Gods dibentuk dari metal, digital hardcore, drone, dan techno, dan berangkat dari keinginan Dylan untuk membuat album yang terinspirasi oleh band metal/hardcore yang menjadi perkenalan awalnya terhadap seni subversif seperti System of a Down, Godflesh, dan Sepultura.

Disposable Gods menampilkan kolaborasi dari Rully Shabara dan Wukir Suryadi (Senyawa), Deathless Ramz (Deathless), Lody Andrian (Gowa), dan Ferdian Maulana (Hakkon). Album ini diproduksi bersama dan di-mix oleh Deathless Ramz, serta di-mastering oleh James
Plotkin.

Sampul album didesign oleh Dylan Amirio dan Emma Day.

Daftar lagu:
1. World of Prayer (feat. Gowa)
2. Insurgents (feat. Rully Shabara)
3. Fix Bayonets
4. Jurang Kuasa
5. Biadab (feat. Wukir Suryadi)
6. Trash Begets Trash
7. Fear of Razorblades
8. Without Sin

Disposable Gods dapat didengar dan dibeli di tautan berikut:
https://logiclost.bandcamp.com/album/disposable-gods
https://www.ninaprotocol.com/profiles/logiclost

Album juga tersedia di platform streaming, dibantu oleh label asal Bandung, Orange Cliff Records. CD edisi terbatas dapat dibeli lewat avonterrorcorps.bandcamp.com dan logiclost.bandcamp.com. Kaset edisi Indonesia akan tersedia lewat Orange Cliff Records pada waktu ke depan.

Untuk informasi tambahan silahkan hubungi:

Dylan Amirio
Performer/Logic Lost
dylanamirio@gmail.com
+62 815 1074 7103
logiclost.net

Theo Nugraha

Theo Nugraha (born Samarinda, April 1992) is an artist, curator and organizer from Samarinda. Theo is the pioneer of the first noise project in Samarinda and has been part of the Indonesian experimental sound scene since 2013. His discography contains almost 200 releases. He is part of the visual experimentation group with Milisifilem Collective and performance art studies at 69 Performance Club. Theo is one of co-initiators of Situationist Under-Record project. In addition he is one of the founders of the HEX Foundation and one of the initiators of Extended. Asia, an online platform for sound and visual artists. Now Theo works as curator of the Rumah Adat Budaya Daerah Kota Samarinda and editorial team at Visual Jalanan.

article above by: Theo Nugraha

    error: Content is protected !!