“Jangan Katakan Sanga Sanga Tidak Mencintaimu”: Bising Kolektif dari Kota Industri Sanga Sanga

“Jangan Katakan Sanga Sanga Tidak Mencintaimu”: Bising Kolektif dari Kota Industri Sanga Sanga

“Jangan Katakan Sanga Sanga Tidak Mencintaimu”: Bising Kolektif dari Kota Industri Sanga Sanga 1080 1080 Extended.Asia.Play

Di tengah kehidupan industri kota yang terus bergerak dan aliran sungai yang menjadi saksi perubahan, bermusik masih kerap dianggap sebagai sesuatu yang sia-sia di Sanga Sanga. ”Jangan Katakan Sanga Sanga Tidak Mencintaimu” lahir dari kegelisahan kolektif. Mereka melawan stigma negatif yang melekat, dengan cara yang paling mereka pahami: musik.

Rilis pada tanggal 22 April 2026, single ini merekam perjalanan kolektif Gimme New Rhime bersama Sumber Rejeki Kolektif—ruang yang mereka bangun sejak 2017 sebagai tempat tumbuh. Gimme New Rhime memilih jalur berbeda—tetap bekerja, tetap hidup seperti kebanyakan orang, namun dalam keterbatasan waktu mereka tetap menjaga ruang untuk bermusik.

”Jangan Katakan Sanga Sanga Tidak Mencintaimu” lahir dari kelelahan menanggapi stigma mulai dari anggapan bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal yang sia-sia, sebutan “makhluk bodoh”, hingga cap tidak dewasa. Gimme New Rhime menangkis pandangan tersebut dengan menunjukkan bahwa mereka juga bisa membangun daerah yang terus tumbuh melalui lagu sebagai bentuk eksistensi.

Mistis “Selendang Merah” yang menakutkan, rumah sakit tua berubah menjadi taman hingga pembangunan patung Presiden Soekarno bukan sekadar latar, tapi juga bagian dari memori, perubahan, dan identitas di kota industri kecil ini terbungkus rapi dalam ”Jangan Katakan Sanga Sanga Tidak Mencintaimu”.

“Kota kecil itu bernama Sanga Sanga dan kami selalu bangga kalau menyebutkannya. Lagu ini menjadi refleksi sekaligus bentuk semangat dalam perlawanan bersama. Besar kecilnya bukan merupakan halangan dalam berkontribusi dengan hal yang tidak biasa,” ucap Cikal, sang vokalis.

Dengan alunan musik yang keras dan lirik yang tajam, Gimme New Rhime memvisualisasikan kemarahan yang selama ini mereka rasakan, menjadikannya bahan bakar untuk tetap eksis.

Berbasis di Kota Juang Sanga Sanga, Gimme New Rhime adalah band indie rock yang terbentuk pada tahun 2013, beranggotakan Cikal Bachtiar (vokal/gitar), Abdiannur (gitar), Muhamad Al-Hafid (bass), dan Muhammad Romi (drummer). Dikenal dari lagu “Basuki Rahmat”, band ini berangkat dari pengaruh musik seperti The Stone Roses, Dinosaur Jr, Title Fight hingga Pure Saturday—dikemas dengan lirik-lirik pengalaman personal, pertemanan, dan dinamika keseharian.

Dengarkan single ”Jangan Katakan Sanga Sanga Tidak Mencintaimu” yang akan tersedia dan dapat dinikmati seluruh Digital Streaming Platform (DSP) mulai 22 April 2026.

CREDITS

Track Title: Jangan Katakan Sanga Sanga Tidak Mencintaimu
Performed by: Gimme New Rhime
Writer: Cikal Bachtiar
Executive Producer: Gimme New Rhime
Music Producer: Muhammad Ramadani
Record Label: Invaders Record
Record Studio: Beemax Studio Samarinda
Vocal: Cikal Bachtiar
Guitar 1: Cikal Bachtiar
Guitar 2: Abdiannur
Bass: Muhamad Al-Hafid
Drum: Muhammad Romi
Programming: Muhammad Ramadani
Backing Vocal: Cikal Bachtiar, Abdiannur
Music Director: Cikal Bachtiar
Mixing: Muhammad Ramadani
Mastering: Muhammad Ramadani

Gimme New Rhime Access
Contact Person : 082255028990 (Izha Wira)

Instagram: @gnr.band | Tiktok : Gimme New Rhime | All DSP : GNR |
Youtube : Gimme New Rhime | Email : gimmenewrhime2022@gmail.com

Theo Nugraha

Theo Nugraha (born Samarinda, April 1992) is an artist, curator and organizer from Samarinda. Theo is the pioneer of the first noise project in Samarinda and has been part of the Indonesian experimental sound scene since 2013. His discography contains almost 200 releases. He is part of the visual experimentation group with Milisifilem Collective and performance art studies at 69 Performance Club. Theo is one of co-initiators of Situationist Under-Record project. In addition he is one of the founders of the HEX Foundation and one of the initiators of Extended. Asia, an online platform for sound and visual artists. Now Theo works as curator of the Rumah Adat Budaya Daerah Kota Samarinda and editorial team at Visual Jalanan.

article above by: Theo Nugraha

    error: Content is protected !!