Red Cherry: Tentang Single Terbaru Bertajuk Sunset in Samarinda

Red Cherry: Tentang Single Terbaru Bertajuk Sunset in Samarinda

Red Cherry: Tentang Single Terbaru Bertajuk Sunset in Samarinda 1080 1080 Extended.Asia.Play

Pada 20 Oktober 2026, (T) Theo Nugraha mewawancarai Band asal Kota Samarinda, (R) Red Cherry, terbentuk pada tahun 2018 dan baru saja merilis single terbarunya bertajuk Sunset in Samarinda. Wawancara ini dilakukan melalui aplikasi chat WhatsApp. Berikut adalah hasil wawancara EXT.ASI.PLAY dengan Red Cherry yang beranggotakan Rizvir (Vokal), Dennis (Gitar), Herry (Keyboard/Synth).

Halo apa kabar Red Cherry ? Sekarang sedang mempersiapkan apa ?

R: Halo, Alhamdulillah secara umum kami baik. Kalau ditanya apakah semuanya baik-baik saja dalam kondisi seperti sekarang, rasanya agak sulit untuk menjawab iya. Apalagi dengan situasi yang sedang terjadi di Samarinda dan sekitarnya, tentu ada keresahan tersendiri. Tapi di sisi lain, kami tetap harus menjalani aktivitas seperti biasa.

Saat ini kami sedang mempersiapkan perilisan single terbaru Red Cherry, Sunset in Samarinda, yang akan dirilis pada 23 Oktober nanti. Lagu ini sebenarnya sudah lama kami tulis, awalnya sebagai bentuk romantisasi terhadap kota Samarinda dan kenangan-kenangan yang ada di dalamnya. Namun, dengan kondisi asap karhutla saat ini, lagu ini terasa memiliki makna yang berbeda. Kami berharap lagu ini bukan hanya menjadi teman bagi orang-orang yang merindukan Samarinda, tetapi juga menjadi cara kecil kami untuk menyuarakan keresahan terhadap apa yang sedang terjadi.

D: Diusahakan baik, bismillah menyiapkan hal hal baik juga

H: Sedang tidak baik baik saja tapi kita lagi menyiapkan sesuatu yang cukup dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, khususnya buat yang tinggal dan tumbuh di Samarinda. Ada cerita tentang kota ini, tentang langit yang berubah, dan tentang sesuatu yang mungkin pernah kita nikmati tapi sekarang justru kita rindukan. Semuanya akan kami ceritakan lewat single terbaru kami, Sunset in Samarinda, pada 23 Oktober 2026. Tunggu tanggal mainnya!

Ceritakan bagaimana perjalanan Red Cherry sejak 2018, kemudian apa yang berbeda atau yang tidak berubah di tubuh Red Cherry sekarang?

R: Awalnya Red Cherry dibentuk di akhir tahun 2018 oleh Herry dan Dennis mungkin lengkapnya bisa diceritain sama mereka, nah kalo aku baru bergabung di awal tahun 2019 melengkapi formasi Red Cherry sebagai vocalist dan langsung terjun ke project penulisan dan pembuatan lagu2 Red Cherry sampai sekarang. Bedanya mungkin dulu saat debut pertama kali formasi kami berlima, karena satu dan lain hal akhirnya kami memutuskan untuk lanjut dengan formasi lebih compact bertiga ada Herry sebagai keyboardist/synth, Dennis sebagai guitarist dan aku sendiri di vocal.

Kenapa sampai akhirnya aku memutuskan untuk bergabung aku melihat adanya kesamaan di berbagai hal, visi misi kami yang sama dalam bermusik, selera musik yang tidak jauh berbeda, obrolan dan komunikasi yang nyambung bahkan hingga sekarang. such a blessing thing, aku dipertemukan dengan orang2 yang berbakat seperti dennis dan herry. bahkan di luar bermusik pun kami sevisi dalam berbagai hal bahkan sekarang kami sedang mengerjakan beberapa project bisnis bareng. menggabungkan background profesi kami yang berbeda untuk membentuk sinergi yang sama

H: Sejak 2018, Red Cherry sudah mengalami banyak perubahan. Dulu kami berlima, sekarang bertiga. Waktu berjalan, keadaan berubah, dan setiap orang punya perjalanan masing-masing. Tapi dari semua perubahan itu, kami belajar bahwa sebuah band nggak harus selalu berada dalam bentuk yang sama untuk bisa terus hidup.

Mungkin sekarang kami berbeda dalam banyak hal, lebih dewasa, lebih mengenal diri sendiri, dan lebih memahami musik yang ingin kami mainkan. Tapi satu hal yang masih sama: kami belum selesai bercerita lewat musik. Buat kami, Red Cherry bukan cuma tentang siapa yang memulai perjalanan ini, tapi tentang siapa yang masih memilih untuk melanjutkannya.

D: Maju terus dong, pelan-pelan tapi ke arah yang sama, banyak rintangan tapi itu hal biasa

Ceritakan tentang single Sunset in Samarinda? Apa yang kalian tawarkan kali ini?

D: Ini karya untuk apresiasi dan rasa bersyukur ke hometown kita sendiri

R: Sebenernya, sunset in samarinda ini berangkat dari keinginan sederhana aja, kami pengennya jadi momen meromantisasi Samarinda dan kenangan-kenangan yang ada di dalamnya. Tentang senja, tentang rumah, tentang orang-orang yang pernah hadir, dan hal-hal kecil yang mungkin sering kita anggap biasa, tapi justru jadi sesuatu yang kita rindukan ketika udah jauh dari sana bahkan dengan momen2 yang sudah berlalu.

Secara musik, kami mencoba memadukan indie pop dengan sedikit sentuhan jazz dan permainan gitar yang terinspirasi dari instrumen tradisional Dayak, sape atau sampek. Jadi, kami pengen lagu ini punya nuansa yang santai, hangat, sedikit melankolis, tapi tetap punya karakter Red Cherry sendiri.

Menariknya, lagu ini sebenarnya udah lama ditulis, jauh sebelum karhutla atau kita sebut aja tragedi nasional ini yang sekarang kita rasakan. Tapi, ketika melihat kondisi Samarinda dan sekitarnya hari ini, rasanya lagu ini punya makna yang berbeda. Awalnya kami cuma ingin merayakan keindahan kota dan bernostalgia dengan momen2 yg sdh dijalani, tapi sekarang ada rasa kehilangan dan kerinduan terhadap sesuatu yang seharusnya masih bisa kita nikmati.

Jadi, kali ini kami nggak cuma ingin menawarkan lagu tentang senja atau nostalgia. Buat kami, ini juga jadi cara kecil untuk menyuarakan keresahan kami sebagai musisi. Kami mungkin nggak punya platform yang besar, tapi bukan berarti kami harus diam. Karena menurut kami, mencintai kota sendiri bukan cuma soal merayakan keindahannya, tapi juga soal peduli ketika ada sesuatu yang mengancamnya.

Bahkan di aransemen musiknya ketika didengar ada dua sound dengan tema sound yang berbeda dalam satu lagu, inginnya sebagai bentuk interpretasi kami menjelaskan bentuk journey perjalanan waktu melalui musik yang kami buat.

Kalau dari liriknya sendiri, sebenarnya Sunset in Samarinda bisa dimaknai dengan cukup luas. Waktu pertama kali menulis lagu ini, aku lebih banyak bercerita tentang perasaan ingin pulang, tentang seseorang atau suatu tempat yang bikin kita merasa nyaman dan merasa seperti di rumah dan ingin mengenang kenangan masa lalu.

Ada lirik “let me write a love story”, yang awalnya bisa dimaknai sebagai keinginan untuk menulis sebuah kisah cinta. Tapi buatku, kisah cinta itu nggak harus selalu tentang seseorang. Bisa juga tentang kota tempat kita tumbuh, suasana, tentang kenangan, atau tentang hal-hal sederhana yang punya arti besar buat kita.

Terus ada juga lirik “when you’re right here, I just wanna feel like home”. Buatku, rumah itu bukan cuma soal tempat secara fisik, tapi juga perasaan. Sesuatu yang bikin kita merasa aman, nyaman, dan menjadi bagian dari sesuatu.

Nah, ketika lagu ini akhirnya kami rilis di tengah situasi asap karhutla, beberapa bagian liriknya terasa punya arti yang berbeda. Ada penggalan “there’s something missing here” yang sekarang terasa lebih dalam. Sesuatu yang hilang itu bisa jadi seseorang, kenangan, atau bahkan hal sederhana seperti langit yang jernih dan senja yang biasanya bisa kita nikmati tanpa harus terhalang asap.

Jadi, menurut kami, menarik ketika sebuah lagu yang awalnya ditulis dengan perasaan romantis ternyata bisa punya makna lain seiring berjalannya waktu. Aku nggak ingin membatasi pendengar untuk memaknai lagu ini dengan satu cara saja. Kalau ada yang mendengarnya dan teringat seseorang, silakan. Kalau ada yang justru teringat rumah atau Samarinda, itu juga nggak masalah. Tapi di tengah kondisi sekarang, aku berharap lagu ini juga bisa mengingatkan kita tentang sesuatu yang seharusnya nggak perlu kita rindukan dari jauh, sesuatu yang “we deserve to have” yaitu kesempatan untuk menikmati rumah kita sendiri dalam keadaan yang baik-baik saja.

Anjayyyyy.

Ada hal menarik soal inspirasi petikan alat musik dayak yang langsung di arrange oleh Dennis, karena Dennis bukan hanya  seorang seniman gitar modern yang handal tapi juga Dennis  bisa menguasai alat musik tradisional khas kalimantan yakni sapeq atau sampek. semoga ini akan menjadi ciri khas sound yang ditawarkan oleh Red Cherry sebagai bentuk identitas sound dan band kami  yang original dan berbasis di Kalimantan.

H: tentang kerinduan terhadap langit Samarinda yang jernih. Kami terbiasa melihat senja sebagai sesuatu yang indah, tapi sekarang ada momen ketika keindahan itu tertutup asap dan kabut.

Yang kami tawarkan kali ini bukan cuma lagu baru, melainkan sebuah perasaan yang mungkin juga dirasakan banyak orang: rindu melihat kota sendiri dalam keadaan yang lebih baik. Kami berharap lagu ini bisa menjadi pengingat bahwa Samarinda punya keindahan yang layak kita jaga, bukan hanya kita rindukan. bhap

Bagaimana proses produksinya?

R: Proses produksinya berawal dari voice note ku bang, terus kita workshop bareng brainstorming bareng cari chord beberapa kali, cari sound dan isian yang cocok, karena jujur aku ga bisa main instrumen musik apapun. Kali ini agak sedikit berbeda dari proses produksinya, biasanya dari rilisan lagu yang pernah Red Cherry buat di lagu ini, melodi lagu dan penggalan lirik sudah aku rekam pribadi di voice note hp aransemennya dan track lagunya menyusul.

Untuk proses rekaman cukup cepat dan singkat setelah draft lagu sudah jadi kita bikin guide vocal yang semuanya kami buat dari studio sederhana di rumah, untuk kemudian vocal kami record di studio backstage milik bang Ari Wardhana. Selesai record filenya kami dibantu mixing dan mastering oleh kak Rizki.

Mungkin Herry dan Dennis bisa tambahkan.

D: Jawaban Rizvir sudah detail dan menggambarkan prosesnya banget. Prosesnya sebetulnya cukup singkat, tapi dari awal ide utamanya memang bikin lagu tentang nyore di samarinda yang berawal dari Rizvir, terus musiknya digarap sama Hery dikasih sentuhan synth pada karakter Red Cherry, nah aku bantu poles dikit-dikit aja plus ngisi melodi.

H: Dari voice note Rizvir yang kita olah, terus kita lempar lemparan materi di grup wa, ketika materi kita sudah final dan bungkus, baru kita pergi ke studio dan langsung take vokal di Backstage Studio.

Ceritakan proses mixing dan mastering? Apakah ada kendala atau semacamnya?

R: Proses mixing dan mastering “Sunset in Samarinda” menjadi salah satu tahap yang cukup penting buat kami, karena kami ingin lagu ini bukan cuma terdengar enak, tetapi juga bisa menyampaikan suasana dan emosi yang kami bayangkan sejak awal. Kami ingin mempertahankan nuansa indie pop yang hangat, dreamy, dan sedikit nostalgik, dengan karakter gitar serta sentuhan jazz yang menjadi bagian dari identitas musik kami.

Untuk proses ini, kami ingin berkolaborasi dengan Rizki Wahyudi. Salah satu alasan kami memilih beliau adalah rekam jejaknya di industri audio. Beliau pernah terlibat dalam pekerjaan mixing dan mastering untuk proyek Padi Reborn Sang Penghibur, serta program musik seperti Music Everywhere dan Breakout. Ada juga kredit mixing dan mastering untuk lagu “Jangan Lawan” dari Roxx dan “Singjul Prediksi” dari Prediksi. Beliau juga terlibat dalam rilisan terbaru PNCL, “You, Me and Earth”. 

Buat kami, ada hal yang lebih personal dari kolaborasi ini, karena Rizki juga berasal dari Samarinda. Jadi, ada kebanggaan tersendiri ketika kami bisa membawa karya yang bercerita tentang kota ini dan mengerjakannya bersama seseorang yang juga punya akar dari kota yang sama.

Kalau bicara kendala, tantangannya lebih ke bagaimana memastikan hasil akhirnya tetap sesuai dengan visi awal kami. Kami ingin setiap elemen musik punya ruang, tetapi keseluruhan lagu tetap terasa menyatu dan emosinya tidak hilang. Apalagi, lagu ini punya cerita yang cukup personal bagi kami. Jadi, kami ingin hasil akhirnya tetap terasa intim, bukan sekadar terdengar bagus secara teknis.

Pada akhirnya, kami berharap “Sunset in Samarinda” bisa menjadi representasi dari apa yang ingin kami sampaikan tentang kota ini, baik keindahannya, kenangannya, maupun perasaan yang muncul ketika kita melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

H: Jawaban ku sama Denis udah terwakilin.

Pengalaman apa yang kalian tampilkan di video musik Sunset in Samarinda?

D: Suasana vibes nyore di kota tercinta, samarinda. Apalagi dengan kondisi sekarang, response keresahan kami terhadap dampak karhutla dan kabut asap, kami juga coba tuangkan dalam bentuk karya

Untuk artwork siapa yang mengerjakan dan apakah visualnya mewakili dari yang ingin kalian sampaikan?

H: Untuk artwork Sunset in Samarinda, kami berkolaborasi dengan Novi Wahyu Kusuma. Kami ingin menghadirkan sesuatu yang punya hubungan erat dengan Samarinda, bukan sekadar visual yang menggambarkan senja.

Artwork ini mengangkat peta Tepian, salah satu ruang yang punya kedekatan dengan kehidupan masyarakat Samarinda. Kami ingin menjadikan tempat ini sebagai bagian dari cerita visual lagu, karena Sunset in Samarinda bukan hanya tentang langit yang kabur, tetapi juga tentang kota, ruang, dan kenangan yang tumbuh di dalamnya.

Makanan dan minuman apa yang menjadi mood selama pembuatan single ini?

H: Bubur ayam dan Americanoo di Tepian Panakula

D: idem

Cita-cita Red Cherry ingin sepanggung dengan siapa ?

H: Band lokal Elepant Kind . Band international ada Sunset Rollercoaster.

R: Band international: brkfstblend. Lokal: The Dare

Dari kalian sendiri, single Sunset in Samarinda inginnya terdengar sampai mana?

H: Satu dunia harus tau sih 

R: Kalau ditanya ingin terdengar sampai mana, tentu kami berharap lagu ini bisa didengar seluas mungkin, nggak cuma sama orang Samarinda, tapi juga orang-orang di luar Samarinda yang mungkin punya cerita dan kerinduan yang sama terhadap kota atau tempat asal mereka.

Karena menurutku, meskipun ceritanya spesifik tentang Samarinda, perasaan di dalam lagu ini cukup universal. Semua orang pasti punya tempat yang mereka anggap rumah, punya kenangan yang ingin mereka simpan, atau punya hal-hal sederhana yang baru terasa berharga ketika sudah nggak bisa dinikmati seperti biasanya.

Tapi lebih dari sekadar ingin lagunya didengar banyak orang, kami juga berharap pesan di balik lagu ini bisa sampai. Terutama dengan kondisi asap karhutla sekarang, kami ingin orang-orang melihat bahwa ini bukan cuma soal langit yang tertutup asap, tapi juga soal kehidupan sehari-hari yang terdampak, tentang lingkungan tempat kita tumbuh, dan tentang hal-hal kecil yang perlahan kita kehilangan.

Kami sadar musik mungkin nggak bisa langsung mengubah keadaan, apalagi kami juga band dengan platform yang masih kecil. Tapi kalau lewat lagu ini ada orang yang jadi ikut peduli, merasa terhubung, atau bahkan melihat Samarinda dari sudut pandang yang berbeda, buat kami itu sudah berarti banget. Kami ingin Sunset in Samarinda bukan cuma didengar, tapi juga dirasakan.

Seandainya kalian bukan musisi dalam Red Cherry, kalian ingin menjadi profesi apa ?

R: Pertanyaannya bagus banget, apa yaa… mungkin tetap akan berkutat di hal-hal kreatif sih kayaknya hahaha, entah itu menulis, bikin sesuatu, atau mungkin di bidang yang berhubungan dengan psikologi sesuai latar belakangku. kayaknya aku memang suka mengeksplorasi cerita dan perasaan manusia, dan itu juga yang akhirnya banyak aku bawa ke dalam penulisan lagu

tapi ya, musik sudah jadi bagian dari hidup juga. jadi kalaupun bukan di Red Cherry, mungkin tetap akan mencari cara lain buat menyalurkan hal-hal yang ada di kepala kami. ntah lewat pekerjaan, karya, atau medium lainnya. intinya, mungkin bentuknya aja yang berbeda, tapi keinginan untuk berkarya itu tetap ada.

H: Pengen jadi orang yg bermanfaat buat teman-teman dan keluarga.

D: jadi chef, bisa masak-masak makanan enak.

Sebutkan film dan Series Favorit kalian?

H: About time, Breaking Bad, Parasite.

R: Film: The Truman Show, Frances Ha, Before Sunrise. Series: Game of Thrones

D: Society of Snow, sangat menginspirasi untuk tetap berjuang dan bertahan hidup walau seperti tidak ada harapan lagi.

Jika kalian masing-masing adalah warna. Maka warna apa yang mewakili kalian?

D: Biru, tenang bagai lautan

H: Warna merah, manyala abangku.

R: Warna putih. Biar merah putih biru wkwkwkwk

Bagaimana dengan kancah musik Samarinda sekarang menurut kalian? Apa yang harus dibenahi ?

R: Jujur skena musik Samarinda punya potensi yang besar dan banyak musisi keren dengan warna masing-masing. semoga kedepannya makin banyak ruang buat musisi lokal untuk tampil, berkembang, dan saling support, supaya musik dari Samarinda bisa makin dikenal luas.

H: Musisi di Samarinda  pada gacor semua, semoga musisi di Samarinda saling support teman teman yang baru berkarya..

Terakhir, apa yang kalian harapkan pada kancah musik Samarinda?

R: Harapannya, skena musik samarinda bisa terus tumbuh, makin solid, dan makin banyak musisi lokal yang berani mengeksplorasi warna musiknya. semoga kita bisa terus saling support dan punya lebih banyak kesempatan untuk membawa karya-karya dari samarinda ke luar daerah, bahkan sampai ke pendengar yang lebih luas. karena menurut kami, banyak cerita dari kota ini yang layak untuk didengar.

H: Semoga makin banyak acara pensi dan event besar lainnya.

D: Saling support dan kolaborasi.

Lyric:
“sunset in samarinda” 

Verse1:
let me write a love story
i just wanna feel like home
can we make some memories?
even when we’re far from home

Bridge:
am i feeling right?
am i feeling ok?
there’s something missing here 

Pre-chorus:
sunset in samarinda
you can’t find like this
wherever you are

Chorus:
tho i have some fear
wish you were here, i don’t wanna be alone
when you’re right here, i just wanna feel like home
it’s been forever, i don’t feel i belong
time is so precious 

Verse 2:
try to rewrite history
does it matter where i’m from?
i’ll put it in a melody
but it won’t matter if i’m gone

Bridge:
am i feeling right?
am i feeling ok?
there’s something missing here

Pre-chorus:
sunset in samarinda
you can’t find like this
wherever you are

Chorus:
tho i have some fear
wish you were here, i don’t wanna be alone
when you’re right here, i just wanna feel like home
it’s been forever, I don’t feel I belong
time is so precious

Credit title :
Sunset in Samarinda
Red Cherry

Song & Lyric: Rizky Virnanda (Rizvir)
Produser musik : Dennis Berhan & Herry
Aransemen musik : Dennis Berhan & Herry

Red Cherry :
Rizvir – Vocal
Dennis – Guitar
Herry – Keyboard/Synth

Recording engineer by : Arie Wardhana ( @ariewdhana, @backstage.ina )
Mixing & mastering by : Rizki Wahyudi ( @akurizki, @jagasvara )
Director of Photography: Resha Alif Utama ( @resaalifutama )
Art Director: Rizvir
Online & Offline Editor: Resha Alif Utama
Gaffer: All Teams
Lighting Assistant: Fajri ( @fajrig._ )

Artwork by : Novi Wahyu Kusuma ( @yuuuwahyuuu )
Artwork logo by : Novi Wahyu Kusuma
Graphic Designer: Afrizal Putera

–

Biodata:

Red Cherry adalah band indie pop asal Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia, yang terbentuk pada tahun 2018. Band ini terdiri dari Rizvir sebagai vokalis, Denis Berhan pada gitar, dan Herryy pada keyboard.

Dengan memadukan melodi yang dreamy, ritme yang santai, aransemen hangat yang didominasi gitar, serta sentuhan jazz yang halus, Red Cherry menghadirkan musik yang terasa nostalgik sekaligus segar. Musik mereka memadukan ritme yang playful dengan melodi yang penuh perasaan, menangkap momen-momen sederhana, emosi yang singkat, dan cerita dari kehidupan sehari-hari.

Red Cherry mulai merilis musik pada tahun 2019 melalui lagu-lagu mereka, sekaligus perlahan membangun karakter musikalnya sendiri di skena indie pop. Melalui tekstur musik yang mellow dan penceritaan yang terasa personal, band ini menciptakan ruang musikal yang membawa pendengarnya dari suasana sore yang hangat hingga refleksi di keseharian, merangkai kehangatan, nostalgia, dan perasaan manis sekaligus getir.

Diskografi:
Album I: Self (2022)
Single: I Called My Mom (2019)
Single: Let Me (2019)
Single: Baby, Maybe (2020)
Single: Everyday (2020)
Single: Don’t be sad (2024)
Single: Sunset in Samarinda (2026)

–

Kontak Person:
Email : rcofficial9@gmail.com
Phone or whatsapp : +62 812-4183-7811
Instagram : @okredcherry
Tiktok: @okredcherry
Twitter: @okredcherry
Threads: @okredcherry
Youtube: https://www.youtube.com/@okredcherry

Ext.Asi.Play

play.extended.asia

article above by: Ext.Asi.Play

    error: Content is protected !!