Skaeta dan Album yang Tidak Dibuat untuk Menyenangkan Siapa-siapa

Skaeta dan Album yang Tidak Dibuat untuk Menyenangkan Siapa-siapa

Skaeta dan Album yang Tidak Dibuat untuk Menyenangkan Siapa-siapa 1080 1080 Extended.Asia.Play

ADA masa ketika hidup terasa seperti ruang tunggu dengan lampu yang terlalu terang, namun pintunya tidak pernah terbuka. Perasaan stagnan inilah yang melatarbelakangi lahirnya New Chains, Same Shackles, album terbaru dari musisi breakcore asal Banjarbaru, Skaeta.

Resmi dirilis pada 18 Desember 2025 di bawah naungan label elektronik asal Surabaya, Anti.Trust Records, album ini hadir sebagai catatan personal yang jujur. 

Skaeta merangkum periode hidupnya antara 2020 hingga 2022—sebuah fase ketika dunia mengecil akibat pandemi, sementara isi kepala membesar dan arah hidup terasa kabur.

Dalam album ini, genre depressed breakcore dan noise emosional bukan sekadar pilihan gaya musik, melainkan sebuah pelarian. 

Skaeta menempatkan referensi seperti Sewerslvt, Machine Girl, hingga Death’s Dynamic Shroud sebagai teman perjalanan dalam merangkai kekacauan yang terasa masuk akal.

“Jadi ya, proyek album ini lahir dari campuran kegelisahan, pandemi, anxious nights, depressed breakcore sebagai pelarian, dan kebutuhan buat ngelepas semua yang udah lama ngendap. Semacam cara buat ngejelasin ulang versi aku tentang ‘rantai’ dan ‘kebebasan’,” jelas Skaeta.

Antara Perubahan dan Beban Lama

Judul New Chains, Same Shackles menjadi tamparan tentang realitas perubahan. Skaeta seolah ingin menyampaikan bahwa mengganti rutinitas atau lingkungan tidak serta-merta menghapus beban lama. 

Secara musikal, ia memilih estetika yang tidak rapi; suara yang pecah, sample yang dipotong agresif, dan ritme yang meledak tanpa permisi.

Meski terdengar kacau, ada emosi yang dijaga tetap utuh di baliknya. Album ini dikerjakan secara mandiri, mulai dari penulisan, sampling, aransemen, hingga mixing. 

“Semuanya aku pegang biar *feel* dan identitasnya tetap konsisten sama apa yang aku bayangin,” tambahnya. 

Meski dikerjakan sendiri, ia tetap melibatkan teman terdekat sebagai pendengar pertama untuk memberikan umpan balik jujur.

Kolaborasi Visual dan Dedikasi

Sisi visual album ini digarap oleh Bagussatya, seniman asal Pati yang dikenal melalui karya-karya perlawanannya. Kolaborasi ini memperkuat karakter album yang akan tersedia melalui laman Bandcamp resmi Anti.Trust Records.

Di luar proyek ini, Skaeta tetap aktif bergerak di jalur musik lain, mulai dari proyek musik house yang lebih ringan hingga keterlibatannya di program Infinite Crossover pada Voices Radio. Namun, bagi Skaeta, New Chains, Same Shackles memiliki tempat tersendiri sebagai bentuk katarsis.

“Album New Chains, Same Shackles dibuat tanpa target besar. Tidak mencoba mendefinisikan generasi. Tidak ingin menyelamatkan siapa pun. Album ini hanya ingin jujur pada satu hal: apa yang menumpuk di kepala, lalu dilepaskan pelan-pelan lewat suara,” tutup Skaeta sembari memberikan catatan kecil bagi kucing kesayangannya, Rest in Peace, Moon.

Skaeta – New Chains, Same Shackles:
https://antitrustrecords.bandcamp.com/album/new-chains-same-shackles
Soundcloud Skaeta: https://soundcloud.com/skaeta
Soundlcoud Label: https://soundcloud.com/antitrustrecords
Bandcamp Skaeta: https://skaeta.bandcamp.com/
Bandcamp Label: https://antitrustrecords.bandcamp.com/music

FOR FURTHER INFO, CONTACT:

Email Anti.Trust Records: anti.trustrecords@gmail.com
Instagram label: https://www.instagram.com/anti.trust_records/
Instagram: https://www.instagram.com/askhaera/
Soundcloud Skaeta: https://soundcloud.com/skaeta
Soundlcoud Label: https://soundcloud.com/antitrustrecords
Bandcamp Skaeta: https://skaeta.bandcamp.com/
Bandcamp Label: https://antitrustrecords.bandcamp.com/music

Theo Nugraha

Theo Nugraha (born Samarinda, April 1992) is an artist, curator and organizer from Samarinda. Theo is the pioneer of the first noise project in Samarinda and has been part of the Indonesian experimental sound scene since 2013. His discography contains almost 200 releases. He is part of the visual experimentation group with Milisifilem Collective and performance art studies at 69 Performance Club. Theo is one of co-initiators of Situationist Under-Record project. In addition he is one of the founders of the HEX Foundation and one of the initiators of Extended. Asia, an online platform for sound and visual artists. Now Theo works as curator of the Rumah Adat Budaya Daerah Kota Samarinda and editorial team at Visual Jalanan.

article above by: Theo Nugraha

    error: Content is protected !!