Bayangkanlah hal-hal buruk yang akan menimpamu saat merekam lagu! Mungkin senar gitar putus? Alat musik seadanya? Tak dapat keluar rumah? atau hanya bisa mengandalkan voice recorder dari ponsel untuk merekam?
Bagi Harlan, kejadian-kejadian semplang itu bukan sekadar pengandaian. Mereka ada untuk menjadi ramuan ganjil album rangkap Fidelitas Cinta.
Singkatnya, album ini memang bercerita tentang situasi seseorang menghadapi pandemi. Tetapi ditulis tanpa kata-kata ramah SEO: COVID-19, Corona, PSBB, Karantina dan lain sebagainya. Layaknya album-album terdahulu, lirik-lirik Harlan terdengar polos, manis, dan beberapa absurd.
Fidelitas Cinta adalah gambaran kegundahan dalam menghadapi situasi tak pasti. Kegelisahan tak dapat bertemu orang terkasih sementara rasa rindu terus memuncak.
Orang-orang memilih menghabiskan waktu di dalam kamar, dan menjadikan ponsel serta daya khayal sebagai pelarian. Sementara disituasi yang lain, banyak orang-orang yang terpaksa dirumahkan.
Seri kedua dari Album Fidelitas bisa jadi abstraksi dari jiwa-jiwa yang meronta dan depresi akibat terlalu lama terperangkap di dalam rumah.
Mungkin, 20 tahun yang akan datang, ketika orang-orang lupa bagaimana hidup di masa pandemi ini, Fidelitas Cinta dapat menjadi dokumentasi sosial.
Tetapi yang jelas, Fidelitas Cinta adalah peresemayaman rindu. Rindu perbani.